Sabtu, 15 September 2012

KELEMBAGAAN PERIKANAN


Tugas individu

KELEMBAGAAN PERIKANAN


OLEH

RIYADI AGUS. T
0804134787
SOSIAL EKONOMI PERIKANAN




FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012



Lokasi                                 : Dusun V Desa Kuta Baru Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai.
Waktu pengumpulan data    : 04 Mei 2012
Tehnik pengumpulan data    : - Wawancara yaitu dengan menanyakan langsung kepada Responden.
-    Pengamatan yaitu dengan mengamati keadaan Kelompok Pembudiyaan Ikan.
Kelembagaan Informal
Keanggotaan pada kelembagaan informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota. Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan kelembagaan yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh kelembagaan informal adalah pertemuan tidak resmi seperti nonton bareng, anak-anak muda yang lagi nongkrong. kelembagaan informal dapat dialihkan menjadi kelembagaan formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, kelembagaan juga dibedakan menjadi kelembagaan primer dan kelembagaan sekunder menurut Hicks:
  • Kelembagaan Primer, organisasi semacam ini menuntut keterlibatan secara lengkap, pribadi dan emosional anggotanya. Mereka berlandaskan ekspektasi timbal balik dan bukan pada kewajiban yang dirumuskan dengan eksak. Contoh dari kelembagaan semacam ini adalah keluarga-keluarga tertentu.
  • Kelembagaan Sekunder, kelembagaan sekunder memuat hubungan yang bersifat intelektual, rasional, dan kontraktual. Kelembagaan seperti ini tidak bertujuan memberikan kepuasan batiniyah, tapi mereka memiliki anggota karena dapat menyediakan alat-alat berupa gaji ataupun imbalan kepada anggotanya. Sebagai contoh kelembagaan ini adalah kontrak kerjasama antara majikan dengan calon karyawannya dimana harus saling setuju mengenai seberapa besar pembayaran gajinya.
Profil Kelompok Pembudidayaan Ikan ( Selancar )
v  Berdiri pada tahun      : 2010
v  Ketua Kelompok         : Sugiono
v  Bendahara                   : Pariono
v  Seketaris                      : Samsuri
v  Komoditi                     : Pembesaran Ikan Lele
v  Luas Lahan                 : 6 Hektar
Kelompok Pembesaran Ikan Lele ini berjumlah sebanyak 11 anggota dari total keseluruhannya, anggota kelompok merupakan masyarakat disekitar lingkungan usaha pembesaran ikan lele. Sehingga memudahkan dalam pengawasan kolam, pemberian pakan serta dalam hal mengadakan rapat. Rata-rata anggota sudah menikah, sedangkan usaha ini hanya sebagai usaha sampingan, usaha utamanya bertani ( petani padi ),berjualan dan sebagainya. Kelompok ini mendapat bantuan dari pemerintah awalnya berupa pembuatan kolam sebanyak 40 (empat puluh) kolam, 11 ( sebelas ) terpal dan 66.000 ( enam puluh enam ribu ) bibit ikan lele, sedangkan bantuan uang tunai yang pernah diterima kelompok sebesar Rp 100.000.000 ( seratus juta rupiah ). Di kota bedagai tedapat 16 kelompok  sehingga dapat katakan Kota Minapolitan karena telah mendapatkan Surat Keputusan dari Menteri, sedangkan kelompok pembudidayaan ikan (sekancar) baru mendapatkan surat keputusan dari desa.
Di kelompok ini sering diadakan penyuluhan dari pihak dinas perikanan setiap seminggu sekali, sanksi dan peraturan dikelompok ini bersifat lisan dan terbuka. Untuk semua kegiatan kelompok bersifat terbuka untuk semua anggota tidak ada ditutupi ini pengakuan dari anggota kelompok pembesaran ikan lele. Sistem/ cara budidaya bersifat terus menurus maksudnya kalau ada kolam yang kosong langsung diisi ikan lagi sehingga tidak ada kolam yang kosong/ tidak digunakan, semuanya berisi ikan dan sistem pembesaranya berupa roling tidak bersamaan hal ini untuk mencegah terjadinya kelebihan ikan dipasaran sehingga harga tidak terjadi anjlok.
Analisis Dinamika Kelompok
1. Pendekatan Sosiologis
Tujuan kelompok/ keberadaan tujuan dalam kelompok petani ini tidak tertulis, walaupun diketahui oleh semua anggota. Penyusuna dan penetapan tujuan dibuat dan disepakati bersama, melibatkan semua anggota. Kejelasan tujuan bagi anggota adalah jelas bagi semua anggota. Tujuan sesuai dengan dengan kebutuhan anggota. Seluruh anggota memahami dan menghayati tujuan kelompok, jenjang sosial cukup jelas dan tegas, Peran status/ kedudukan cukup jelas dan tegas. Kejelasan ketegasan kekuasaan cukup jelas dan tegas kepercayaan yang dianut sangat  mendukung pencapaian tujuan kelompok, keberadaan sanksi bagi anggota secara tidak tertulis, diketahui oleh semua anggota, kejelasan dan ketegasan sanksi bagi anggota cukup jelas dan tegas dan berlaku sama bagi semua anggota kelompok, keberadaan norma cukup jelas dan tegas bagi anggota dan berlaku bagi semua anggota kelompok anggota. Keberadaan sentimen kadang kala muncul dalam perilaku positif anggota, sedangkan sentimen negatif jarang sekali terjadi. Ketersediaan berbagai kemudahan jarang tersedia dalam jumlah memadai. Penggunaaan fasilitas selalu digunakan secara maksimal, keberadaan tegangan dan himpitan yang memperkuat persatuan dan kesatuan sesama anggota tidak pernah ada.
Interaksi antar sesama anggota dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok selalu lancar dan efektif, pemeliharaan batas-batas sosial kelompok dengan lingkungannya terpelihara dengan baik dan efektif, jalinan suatu kelompok dengan kelompok lain terjalin walaupun kurang efektif. Proses pengembangan fungsi-fungsi sosial atau hubungan-hubungan sosial dikembangkan subkelompok yang memiliki jalinan yang baik, proses pembelajaran atau pewarisan nilai-nilai kelompok kepada setiap anggota berjalan dengan baik dan efektif, proses pengawasan berjalan dengan baik dan efektif terhadap perilaku setiap anggota agar tidak menyimpang dari aturan.
2. Pendekatan PSIKO-SOSIAL
Keberadaan tujuan kelompok bersifat tertulis dan terbuka untuk semua anggota. Penyusuna dan penetapan tujuan dibuat bersama, melibatkan semua anggota, kejelasan tujuan bagi anggota jelas bagi semua anggota, tujuan sesuai dengan anggota dan dipahami serta dihayati oleh seluruh anggota, struktur kelompok cukup jelas dan tegas, kejelasan kedudukan, hak, kewajiban dalam struktur kelompok cukup jelas dan tegas. Pembinaan selalu diupayakan dan efektif, untuk kekompakan kelompok serta keterikatan cukup kuat dan cukup kompak, sedangkan suasana kelompok cukup kondusif. Tekanan dan tegangan dalam kelompok tidak perna hada, sedangkan keefektifan kelompok didalam mencapai tujuan cukup efektif sedangkan tujuan-tujuan agenda terselubung tidak pernah ada.
Perhitungan untuk pendekatan sosiologis
Jumlah item  : 26
Skor terendah : 26 x 1 =26
Skor tertinggi   : 26 x 3 = 78
Jumlah kategori  : 3
Kisaran skor : 78-26 – 1 = 17
                            3
Kategori
1.      kurang dinamis  : kisaran skor 26 s/d 43
2.      Dinamis               : kisaran skor 44 s/d 61
3.      Sangat dinamis    : kisaran skor 62 s/d 78
            Dari perhitungan dan data yang diperoleh dari kelompok pembudidayaan ikan diperoleh skor 62 jadi dapat dikategorikan kelompok ini sangat dinamis.

BUDIDAYA BEKICOT


BUDIDAYA BEKICOT

A. SEJARAH SINGKAT
Bekicot berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak terdapat di Pulau Jawa.
Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Konon di Eropa, bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.
B. MANFAAT
Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot (sate bekicot, keripik bekicot ) adalah masyarakat Kediri. Disamping itu bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti abortus, sakit waktu menstruasi, radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie., yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, leher membengkak dan penyakit kaum wanita termasuk keputihan
1.  PERSYARATAN LOKASI
Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasinya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.
2.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
2.1.  Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Perkandangan
Walaupun lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan, karena dalam aslinya dan untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25–30 derajat C. Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah, artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang tanpa melihat umur/ besarnya.
Ada tiga cara berternak bekicot di dalam kandang, antara lain:
a. Kandang kotak kayu
Kandang terbuat dalam lembaran kayu tripleks yang berkaki. Untuk kerangkanya dapat digunakan kayu kaso. Ukuran panjang dan lebar kandang adalah 1 x 1 meter, tinggi 1,25 meter. Di atas kotak tersebut diberi kawat kasa, agar bekicot tidak keluar dari dalam kandang. Sebaiknya di atas kotak perlu dibuatkan tempat berteduh, agar keadaan tempat selalu gelap/tidak langsung kena sinar matahari.
b. Kandang dari bak semen
Pembuatan kandang ini sama dengan kandang kotak kayu. Dalam bak semen yang perlu diperhatikan adalah alasnya. Untuk menciptakan suasana lembab, alas semen perlu diberi tanah dan cacing untuk menggemburkan tanah dan menyerap kotoran yang dikeluarkan bekicot. Tebal lapisan tanah di dalam bak sekitar 30 cm. Zat-zat makanan yang diperlukan bekicot hendaklah selalu tersedia di dalam bak.
c. Kandang galian tanah
Tanah digali dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 1 x 1 x 1 m. Perlu diperhatikan sebaiknya tanah galian yang akan digunakan untuk kandang dipilih yang agak kering. Sebaiknya kandang dibuat di bawah pohon yang rimbun, kalau dindingnya terlalu basah perlu diberi lapisan pasir.


2) Peralatan
Alat-alat yang diperlukan untuk pembuatan kandang: kayu, semen, bata pasir, kain kasa dan cangkul.
2.2 Pembibitan
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.
2) Reproduksi dan Perkawinan
Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.
3) Proses Kelahiran
Telur bekicot akan menetas setelah usianya cukup. Pada waktu telur itu menetas dan menjadi anak cangkang, biasanya tidak ditunggui induknya. Begitu bekicot selesai bertelur, telurnya ditinggalkan begitu saja. Telur bekicot akan pecah sendiri melalui proses alam. Penetasan bekicot hingga menjadi anak tergantung pada keadaan tempat dan waktu tetas. Bilamana tempat itu memenuhi syarat (sempurna) seperti  kelembaban tanah, iklim dan cahaya yang mencukupi, maka telur akan cepat menetas. Sebaliknya jika keadaan tanah/iklim kering dan tempatnya kurang menguntungkan maka telur akan lambat menetas.
2. 3 Pemeliharaan
Pemeliharaan bekicot bisa dilakukan dengan cara terpisah dan bisa juga secara campuran di dalam suatu tempat. Meskipun cara terpisah membutuhkan tempat khusus tetapi ada keuntungannya. Misalnya, anak bekicot bisa diketahui
perkembangannya secara tepat, baik besarnya maupun usianya. Dengan demikian, tidak sulit untuk memberikan perawatan secara khusus. Bagi peternak bekicot sangat mudah kiranya apabila perawatan anak bekicot itu dilakukan di tempat khusus. Adapun makanan anak bekicot bisa diberi makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur. Harus diingat hendaklah tempatnya selalu teduh dan lembab. Setelah anak bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan kekandang pembesaran.
Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi:
1) Menjaga kelembaban lingkungan
Bekicot sangat suka tempat yang lembab sehingga untuk mempertahankan kelembaban lingkungan dapat digunakan atap atau perlindungan dan dipertahankan dengan menyiramkan air lokasi peternakan setiap hari.
2) Mempertahankan kondisi lingkungan
Bekicot menyukai tempat yang lembab, namun bukan berarti pada tanah yang becek. Sehingga diperlukan usaha untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang sesuai dengan yang dikehendaki bekicot.
3) Pemberian pakan yang bermutu secara teratur
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
4) Menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain
Agar bekicot dapat tumbuh baiak tanpa gangguan dari hewan yang merupakan musuhnya dan hewan yang dapat merebut makanannya maka lahan budidaya harus dijaga agar tidak dapat dimasuki hewan-hewan lain.
5) Menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliharaan
Untuk menjaga agar bekicot tidak keluar dari areal dapat dilakukan hal sebagai berikut:
a. membuat tutup kandang (bila budidaya bekicot dalam kandang)
b. membuat pagar yang bagian atasnya diolesi dengan detergen
c. menabur abu atau garam disekeliling pagar bagian dalam.
2. 4  HAMA DAN PENYAKIT
Sampai saat ini belum banyak diketahui tentang adanya hama atau penyakit yang dapat menyebabkan kematian bekicot, kecuali semut, bebek dan itik.
3. PANEN
Dengan pemeliharaan cukup baik, bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8 bulan. secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 Cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya. Hasil utama dari ternak bekicot adalah dagingnya, yang dapat diolah langsung dengan dibuat sate, keripik, dendeng/masakan segar lainnya dan dapat juga diolah dalam bentuk kalengan. Ada juga permintaan dalam keadan hidup. Disamping itu daging dari bekicot ini dapat dijadikan tepung, yang pengolahannya melalui proses pengeringan terlebih dahulu.
Bekicot dikumpulkan di dalam kotak kardus/peti dari kayu dan jangan menggunakan karung goni karena dapat mengakibatkan kulit bekicot pecah. Setelah dimasukkan dalam peti, pertama sekali perlu dilakukan pencucian agar terhindar dari semua kotoran dan lumpur yang melekat pada cangkangnya. Pencucian ini dengan cara menyemprot bekicot dengan air bersih. Setelah itu, Bekicot di karantina selama 1-2 hari/malam tanpa diberikan makan agar kotoran dan lendirnya keluar sebanyak mungkin.
3.1 Hasil Tambahan
Disamping diambil dagingnya, kulit/cangkang bekicot juga laku untuk dijual. Baik untuk bahan dasar obat-obatan/dibuat tepung untuk tambahan makanan untuk hewan ternak yang membutuhkan tepung berbahan dasar yang mengandung zat kapur.

manajemen bisnis


I.       PENDAHULUAN

1.1.  Latar belakang
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.
Kata bisnis sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung skupnya  penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya bisnis pertelevisian. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi bisnis yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini (Tri, 2011).
Perikanan dengan segala unsur yang ada di dalamnya merupakan suatu kekayaan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk itu harus dikelola dan dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Provinsi Sumatra Utara termasuk salah satu provinsi yang cukup potensial dalam memproduksi ikan. Hal ini dapat dilihat dari produksi ikan provinsi Sumatra Utara pada tahun 2005 yaitu sebesar 406.553,05 ton, yang terdiri dari 344.840,50 ton ikan air laut dan 40.914,04 ton ikan budidaya air payau dan air tawar. (Dinas perikanan Provinsi Sumatra Utara, 2005)
Kabupaten Serdang Bedagai secara goegrafis terletak pada posisi 20 57I – 30 16I Lintang Utara, 980 33I – 990 27I Bujur Timur merupakan pemekaran dari Kabupaten Deli Serdang. Dengan luas wilayah 1.900,22 Km2 terdiri dari 17 Kecamatan meliputi 243 Desa dan Kelurahan. Dengan jumlah penduduk 603.419 jiwa, 142.553 Kepala Keluarga (KK) dengan kepadatan penduduk rata-rata317 jiwa/Km2.
Letak Kabupaten Serdang Bedagai sangat strategis, yakni sebelah Utara berhadapan langsung dengan Selat Malaka, merupakan alur laut yang cukup padat aktivitasnya, sebelah Selatan berbatas dengan Kabupaten Simalungun, sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Asahan dan sebelah Barat berbatas dengan Kabupaten Deli Serdang. Disisi lain mempunyai potensi areal pertambakan yang cukup luas, aliran sungai, rawa serta kegiatan-kegiatan budidaya ikan air tawar dan kolam pemancingan.
Perikanan menyediakan sumber penting bagi pemenuhan sumber makanan, pendapatan, pekerjaan dan rekreasi.  Jutaan manusia bergantung kepada perikanan sebagai mata pencaharian, sehingga perlu keterlibatan semua stakeholder  untuk mengelola perikanan dunia guna menjamin kecukupan ikan untuk generasi mendatang.

1.2.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari praktikum ini adalah untuk mengetahui jenis industri perikanan yang ada di kabupaten serdang bedagai, sekaligus untuk melihat lebih jauh
Mengenai backward linkeged ( keterkaitan kebelakang) maupun forward linkages (keterkaitan kedepan) industri yang sedang di amati.
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah untuk menambah wawasan mahasiswa terhadap industri perikanan salah satunya terhadap industri yang diamati dalam praktikum tersebut, sekaligus melatih mahasiswa untuk menjadi manusia yang handal dibidang bisnis nantinya setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku perkuliahan.
II.    TINJAUAN PUSTAKA

Secara umum , manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya manusia dan juga sumber daya alam. Dalam melakukan kehidupan sehari hari kita sebenarnya tidak akan pernah lepas dari suatu manajemen, baik itu dunia pekerjaan, pendidikan, kesehatan, penelitian dan lain lain. Sebaik apapun potensi yang kita miliki tetapi jika tidak di ikuti oleh manajemen yang baik maka hasilnya kurang baik, sebaliknya jika potensi kita biasa biasa saja tetapi jika di atur oleh manajemen yang baik maka hasilnya akan lebih baik.Dalam bisnis perikanan, manajemen juga sangat diperlukan supaya dapat berjalan lancar dan mendapat hasil yang sesuai harapan. Pada manajemen sendiri terdapat beberapa fungsi sebagai bagian dari proses manajemen. Semua fungsi-fungsi manajemen terdapat dalam setiap kegiatan usaha. Dalam bisnis perikanan, fungsi-fungsi itu mempunyai wujud yang berbeda, tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi dan jenis komoditas yang diusahakan.
Agar manajemen dapat mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, diperlukan sarana-sarana pendukung. Sarana-sarana tersebut terdiri dari men (tenaga kerja manusia), money (uang yang diperlukan dalam usaha), methods (cara untuk mencapai tujuan), materials (bahan yang diperlukan), machine (alas yang diperlukan), dan market (pasar, sebagai tempat untuk menjual hand produksi). Tanya adanya sarana-sarana tersebut, manajemen tidak akan mencapai tujuan ataupun fungsinya.

III.              
III. METODE PRAKTEK

3.1. Waktu Dan Tempat
            Praktek umum ini dilaksanakan pada bulan april 2012, yang bertempat Di Kota Galuh Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatra Utara.
3.2. Metode Praktek
            Metode praktek yang digunakan dalam praktek umum ini adalah metode survei yaitu dengan melakaukan pengamatan langsung ke lokasi dan wawancara dengan responden yang terlibat dengan kegiatan perikanan meliputi nelayan dan pedagang ikan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
            Dari hasil praktikum yang telah kami laksanakan di perbaungan kabupaten serdang bedagai ini, maka kkami memperoleh hasil sebagai berikut:
1.Bahan dan Alat
Adapaun bahan utama yang digunakan dalam proses pengasapan ini adalah ikan lele, ikan lele diperoleh dari kolam-kolam masyarakat  disekitar wilayah industri pengasapan itu berada, kemudian untuk menutupi kekurangan biasanya mereka sengaja mendatangkan ikan dari daerah lain di luar kabupaten.
Sedangkan alat yang digunakan terdiri dari lemari oven, kolam penampungan sementara, tempat penyusunan ikan seperti rak-rak yang berlubang-lubang seperti jaring pada bagian permukaannya, serta wadah untuk pengepakkan seperti kardus.
2.        Kriteria Mutu Sensoris Ikan Asap
Parameter
Parameter




Parameter
ü  Permukaan ikan asap cerah, cemerlang dan mengkilap. Kalau kusam dan suram menunjukkan bahwa ikan yang diasap sudah kurang bagus mutunya atau karena perlakuan dan proses pengasapan tidak dilakukan dengan baik dan benar.
ü  Tidak tampak adanya kotoran berupa darah yang mengering, sisa isi perut, abu, atau kotoran lain. Adanya kotoran semacam ini menjadi indikasi kalau pengolahan dan pengasapannya tidak baik. Kalau pada permukaan ikan terdapat deposit kristal garam
ü  maka hal ini menunjukkan bahwa penggaraman terlalu berat dan tentunya rasanya sangat asin.
ü  Pada ikan asap tidak tampak tanda-tanda adanya jamur atau lendir.

Warna
ü  Ikan asap berwarna coklat keemasan, coklat kekuningan, atau cokelat agak gelap. Warna ikan asap tersebar merata. Adanya warna kemerahan disekitar tulang atau warna gelap di bagian perut menunjukkan bahwa ikan yang diasap sudah bermutu rendah.
Bau
ü  Bau asap lembut sampai cukup tajam atau tajam, tidak tengik, tanpa bau busuk, tanpa bau asing, tanpa bau asam, tanpa bau apak.
Rasa
ü  Rasa lezat, enak, rasa asap terasa lembut sampai tajam, tanpa rasa getir atau pahit, tidak terasa tengik.

Tekstur
ü  Tekstur kompak, cukup elastis, tidak terlalu keras (kecuali produk tertentu seperti ikan kayu), tidak lembek, tidak rapuh, dan tidak lengket. Hendaknya kulit ikan tidak mudah dikelupas dari dagingnya.

4.2. Pembahasan
Ikan asap adalah ikan yang diolah dari ikan segar atau ikan yang digarami terlebih dahulu ( bahkan dapat pula diambil dari ikan-ikan hasil penggaraman kering atau basah ), tergantung dengan selera konsumen.
Pengasapan merupakan salah satu teknologi inovatif untuk mengawetkan ikan tanpa campuran bahan pengawet. Pengasapan ikan dilakukan pada suhu 65 0C – 80 0C selama 3-4 jam. Untuk menghasilkan asap, sebaiknya dipakai jenis kayu yang keras (non resinous) atau sabut dan tempurung kelapa. Asap dari kayu yang lunak sering mengandung zat-zat yang menyebabkan bau kurang baik pada hasil asapan.
Pengaruh Pengasapan Terhadap Ikan
  1. Ikan mengandung sedikit kadar air sehingga masa simpan dapat diperpanjang
  2. Rasa daging gurih dan padat, serta mempunyai aroma yang khas
  3. Mudah diolah dan disajikan dalam berbagai masakan, antara lain digulai santan, digoreng balado, dan dipindang
Pengasapan ikan sampai saat ini masih belum mendapatkan perhatian yang cukup dari industri perikanan padahal pengembangan produk ikan asap mempunyai prospek yang cukup bagus di masa mendatang. Mengingat bahwa di beberapa negara maju, tingkat konsumsi produk ikan asap cukup bagus. Oleh karena itu upaya meningkatkan produksi dan kualitas bagi ikan asap di Indonesia mendesak untuk dilakukan.
Di Kabupaten Serdang Bedagai, ikan asap yang diolah dari bahan baku ikan lele merupakan salah satu produk unggulan daerah yang sangat khas dan popular. Ikan lele yang memiliki bentuk memanjang agak lonjong dengan panjang tubuh berkisar antara 10-15 cm merupakan ukuran yang ideal untuk dikonsumsi oleh konsumen. Ikan lele asap dari kabupaten serdang bedagai memiliki kharakteristik karena di olah dalam bentuk utuh (whole fish) yang telah mengalami penyiangan terlebih dahulu (insang, isi perut dibuang) dan diproses dengan cara diasapi. Pengolahan ikan asap di kabupaten serdang bedagai ini memang betul-betul hanya memanfaatkan asap dalam proses pengolahannya. Dengan bantuan pemanasan maka produk akhirnya dapat memiliki daya awet hingga berbulan bulan, namun hal ini ditentukan oleh panjang pendeknya waktu pengasapan dan cara penyimpanan.
1. Backward Linkages.
a. Lokasi Usaha
Pada dasarnya tidak terdapat persyaratan khusus dalam menentukan letak lokasi usaha pengolahan ikan lele asap. Lokasi pengolahan ikan lele asap yang baik tentunya adalah lokasi usaha yang dekat dengan sumber bahan baku utama, yakni ikan lele segar, dan memiliki ketersediaan air yang cukup, serta akses yang luas terhadap pemasaran.
Berdasarkan hal di atas maka lokasi pengolahan ikan lele asap sebaiknya tidak jauh dari kolam, karena ikan lele yang berasal dari kolam harus sedapat mungkin segera sampai di tempat pengolahan agar tingkat kesegaran ikan dapat tetap terjaga. Jika lokasi pengolahan ikan berada jauh dari kolam maka konsekuensi harus melakukan penanganan ikan dengan baik. Tingkat kesegaran ikan lele  sangat mempengaruhi mutu ikan lele  asap yang dihasilkan.
b.      Alat dan bahan
ü  Alat
Semua peralatan mulai dari wadah open untuk pengasapan ikan, hingga kayu bakar dan semua peralatan lainnya berasal dari dalam daerah mereka sendiri.. seperti open yang sengaja mereka pesan pada ahlinya di daerah sekitar industri tersebut berdiri.
Pada industri pengasapan ini menggunakan open besar dari besi, hal ini disebabkan atas beberapa pertimbangan antara lain:
·         Alat pemanas mampu mengasap ikan dalam jumlah banyak (efektif)
·         Alat ini menggunakan bara api sehingga panas yang dihasilkan lebih stabil
·         Alat ini memiliki prinsip kerja yaitu pengkondisian udara melalui bantuan ruangan yang dialiri asap dari hasil pembakaran
·         Menggunakan cerobong yang berfungsi membuang asap bakar
·         Sirkulasi udara yang dihasilkan menyebabkan kondisi didalam ruang penyerapan memperoleh suhu yang relatif sama
·         Dilengkapi tempat pembuangan abu untuk menghindari kotor disekitar alat pemanas
·         Harga relatif murah sehingga mampu terjangkau oleh masyarakat menengah kebawah
·         Kualitas material yang terbuat dari aluminium memungkinkan pemilihan alat ini lebih ringan mudah dipindah-pindah namun mampu tahan karat
·         Dari segi ergonomis tidak cepat lelah, karena setelah bara api menyala, alat ini bisa ditinggal dan bekerja sendiri
·         Keamanan penggunaan alat ini sangat baik karena model tertutup sehingga tidak menimbulkan percikan
·         Perawatan relatif mudah karena prinsip kerjanya sederhana dan dengan hasil yang maximal
·         Bahan bakar arang murah dan mudah didapat
·         Dilengkapi dengan handle (pegangan) untuk mendorong alat berpindah tempat
·         Fungsi utama mengurangi kadar air yang terkandung pada ikan, agar ikan lebih awet
·         Untuk melihat dan mengontrol suhu, dilengkapi dengan termometer suhu
·         Karena dapat menampung ikan dengan kapasitas banyak, maka tenaga yang dikeluarkan untuk sekali pengasapan akan lebih banyak
·         Profit (keuntungan) yang diperoleh akan lebih meningkat karena kapasitas produksi yang dihasilkan lebih banyak.


ü  Bahan
Bahan utama dalam pengasapan ikan adalah ikan lele, dalam hal ini industri yang terletak di serdang bedagai ini menggunakan ikan lele. Ikan lele yang mereka gunakan sebagai bahan baku, mereka perolah dari kolam kolam masyarakat sekitarnya selebihnya mereka peroleh dari luar daerah kabupatennya,  namu tetap masih dalam satu propinsi, mmengingat persediaan stok ikan lele cukup memenuhi di daerah tersebut.
Lele yang mereka peroleh dari kolam warga sekitar, tidak langsung diolah menjadi ikan asap, akan tetapi sebagiannya mereka letakkan terlebih dahulu dalam kolam penampungan sementara, hal ini dilakukan untuk menjaga kesegaran ikan selama proses produksi ikan asap dilakukan, kemudian ikan secara bertahap diolah manjadi ikan asap, yaitu dengan cara ikan yang diambil dari kolam penampungan sementara dibersihkan ( isi perut dan kepala dibuang ), kemudian setelah itu ikan langsung dimasukkan kedalam lemari oven untuk diasapkan tan[a dicuci darahnya terlebih dahulu, menurut mereka hal ini dilakukan untuk menjaga aroma ikan yang diasapkan agar lebih khas dan aroma dan rasa ikannya sangat terasa bila dikonsumsi.
Untuk membuat ikan asap perlu disiapkan bahan -bahan berupa : Ikan lele segar 3 Kg, garam 1 Kg garam, air secukupnya.
  1. Ikan lele di belah menjadi dua
  2. Bersihkan isi perutnya
  3. Cuci bersih dan tiriskan
  4. Nyalakan kayu bakar dalam rumah asap, sampai didapat asap dengan temperature ruang 60 – 70 oC
  5. Atur ikan di atas rak pengasapan kemudian lakukan proses pengasapan sampai ikan matang dan berwarna kuning kecoklatan mengkilap
  6. Keluarkan rak ikan dari rumah asap dan biarkan hingga dingin.
Setelah ikan dikeluarkan dari open ikan siap dimasukkan dalam kardus untuk dipreoses lebih lanjut.
c.       Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dipekerjakan dalam industri pengasapan ikan lele ini berkisar 20 hingga 30 orang, hampir seluruh tenaga kerja berasal dari daerah setempat. Keterampilan diperoleh dari pengalaman selama mereka menjalani usahanya. Pada umumnya pemilik berusaha untuk belajar terlebih dahulu sehingga mendapatkan produk ikan asap yang sesuai dengan keinginannya. Tenaga kerja laki-laki maupun perempuan umumnya mampu mengerjakan tahap tahap pengolahan ikan bandeng asap.
Upah tenaga kerja pada usaha pengasapan ikan lele ini bervariasi antar pengolah. Upah ditentukan berdasarkan pengalaman dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Untuk tenaga kerja biasanya hanya melibatkan 20-30 orang mengingat kapasitas produksi untuk setiap pengolah besar (sekitar 1 ton/ hari). Tenaga kerja biasanya memperoleh upah Rp1.50.000 hingga Rp. 2.000.000;.
d.      Teknologi
Usaha pengolahan ikan bandeng asap ini menggunakan teknologi mesin-mesin dan peralatan yang lumayan modern. Proses pengasapan ikan dilakukan dengan peralatan yang atau dipesankan secara mudah dan tersedia di dalam negeri. Seperti bahan tempat oven untuk pembuatan alat pengasap dapat dibeli sekitar daerah tersebut. Bahkan ada beberapa pengolah yang menggunakan modifikasi dari bahan tong logam bekas yang dilubangi bagian atas dan bawahnya sehingga dapat berfungsi sebagai alat pengasap.
1.      Forword linkages.
Adapun yang termasuk dalam forword lingkages dalam bisnis perikanan industry ini adalah sebagai berikut:
ü  Pemasaran
Ikan yang diolah (diasapkan) pada industri ini tidak diberi lebel atau dikemasankan., ikan yang telah diasapkan kemudian dikirim ke sidampuan untuk di beri kemasan sekaligus mereknya. Alasan mereka terhadap hal ini disebabkan pada industri pengasapan ini lebih cenderung tidak mau mengambil resiko bila mereka memasarkan sendiri, boleh jadi hal ini disebabkan karena mereka kurang mampu memasarkan produknya dengan merk sendiri, mereka khawatir produknya tidak diterima dipasaran karean belum memiliki nama /merk dari kemasan ikan yang terkenal seperti dari sidampuan. Oleh sebab itu mereka leebih cenderung memilih untuk memasarkannya pada industry pengasapan ikan yang lain yang telah mempunya merk dan label sendiri. Namun hal ini cukup disayangkan karena bila mereka memasarkan sendiri produknya tentu saja hasil yang didapat lebih besar legi ketimbang menjual pada perusahaan yang hanya memberikan label terkenal.
ü  Harga
Harga ikan asap sendiri tidak ditentukan perkemasanya, hal ini disebabkan industri pengasapan ikan lele tidak menjual produk hasil produksinya dalam bentuk kemasan, hasil olahan ikan asap dijual kembali ketempat pemberian label ikan asap di sidampuan. Harga ikan asap yang dijual adalah Rp. 150.000/kg.
ü  Distribusi
            Ikan hasil produksi olahan ikan asap ini tidak didistribusikan langsung ke konsumen, melaikan dikirim kembali ke perusahaan ikan asap yang ada disidampuan untuk diberi lebel dan merek perusahaan tersebut, hal ini dilakukan karena industry olahan ikan asap ini belum memunyai merek dan lebel sendiri.
ü  Promosi
Ikan asap yang diolah di industri ini tidaklah begitu dipromosikan, hal ini karna mereka belum mempunyai merk dan label sendiri, promosi hanya dilakukan ke perusahan perusahan yang memberikan bermerk agar mereka bias memasokkan ikan keperusahaan tersebut.
ü  Limbah hasil olahan ikan asap
Adapun limbah hasil olahan ikan asap tidak langsung dibuang, seperti kepala hasil ikan lele hasil dari olehan pertama dari ikan asapan ini masih bisa digunakan untuk makanan bebek. Hanya isi perut dari ikan lele saja yang dibuang pada tempat pembuangan isi perut ikan lele.
Selain limbah dari bahan bakunya, limbah lain adalah asap yang dihasilkan dari cerobong asap lemari oven. Asap ini langsung dibuang keudara, namun dampak secara langsung tidaklah dirasakan oleh masyarakat yang ada disekitar industi pengasapan, selain volume asap yang tidak terlalu banyak, hal ini juga disebabkan letak industri  ini yang sedikit menjauh dari pemukiman pada umumnya.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dalam melakukan suatu usaha apapun dibutuhkan manajemen termasuk juga dalam menggeluti dunia bisnis perikanan ini. Ilmu manajemen sangatlah vital dibutuhkan untuk mengatur segala sesuatu dari awal hingga akhir. Jika tanpa adanya manajemen yang baik sangatlah mustahil dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam usaha tersebut. Dengan manajemen yang baik dapat mengubah suatu yang buruk menjadi lebih baik, sedangkan suatu yang baik tetapi tidak menerapkan manajemen yang baik maka akan memperoleh hasil yang buruk. Bagaimana jika sesuatu yang baik dikelola dengan baik pula pasti hasilnya akan luar biasa.
Berdasarkan hasil survei lapangan, keberhasilan usaha dibidang pengasapan ikan sangat dipengaruhi oleh pengalaman usaha yang dimiliki pengusaha/ pengolah dalam menjalankan usahanya. Pengasapan ikan yang bahan bakunya sangat tergantung pada pemberian alam memerlukan pengetahuan yang baik mengenai perkembangan cuaca dan musim pemanenan.

5.2. Saran
            Sebaiknya industry-industr pengolahan ikan asap seperti yang berada di serdang bedagai ini mempunya kemasan olahan ikan asap dengan mereknya sendiri, hal ini dimaksudkan agar mereka memperoleh keuntungan finansial yang maksimal dibandingan mereka harus menjual kembali ke perusahan pengemasan yang telah mempunyai merek tekenal.
            Industri pengolahan ikan asap juga harus memiliki tenaga yang professional di bidang pemasaran ikan, karena pemasaran merupakan ujung tombak dari semua proses industri  pengolahan ikan tersebut,  tenaga dibidang pemasaran ini bertanggung jawab penuh terhada pemasaran produk untuk memperoleh hasil yang maksimal dan mampu bersaing di dalam pasar, baik domestik maupun ekspor.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahardi,F dkk, Agribisnis perikanan, Jakarta: Penebar Swadaya,1993.

Sabardi,Agus,  Pengantar Manajemen, Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN,1997.

Hannesson,Rognvaldur, Ekonomi Perikanan, Bergen: Universitas Indonesia Press, 1988.

FAO (Food and Agriculture Organization), Fisheries Management, Rome: United Nations, 2003.

Marahudin,Firial dan Smith, Ekonomi Perikanan ( Dari Teori Ekonomi ke Pengelolaan Perikanan), Jakarta: Gramedia,1986.